Selasa, 30 November 2010

Pemkab Sumenep Gelar Festival Makanan Khas


Sumenep - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menggelar festival makanan dan minuman khas setempat, Selasa.

Bupati Sumenep, A. Busyro Karim menjelaskan, makanan dan minuman khas sebenarnya merupakan salah satu potensi yang bisa dijual, baik sebagai bahan pangan maupun potensi wisata.
"Oleh karena itu, kami berharap festival ini bisa mempromosikan makanan dan minuman khas Sumenep menjadi lebih terkenal. Sehingga, warga di luar Madura tidak hanya mengenal sate dan soto Madura sebagai makanan khas," katanya di Sumenep.

Melalui festival tersebut diharapkan makanan yang sebenarnya lebih khas kemaduraannya, seperti "nase' kowa maronggi" dan minuman "poka" lebih terangkat dan terkenal ke wilayah luar Madura.

"Jangan sampai 'nase' kowa maronggi' yang sebenarnya makanan khas Madura ini kalah populer dengan nasi pecel ala Madiun maupun nasi liwet dari Solo," katanya menambahkan.

Bupati berharap pimpinan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep bisa melakukan terobosan untuk membuat "nase' kowa maronggi' menjadi potensi wisata.

"Jangan hanya menggelar festival. Kegiatan ini harus ada tindaklanjutnya dan semoga nantinya bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan asing," katanya menegaskan.

Festival tersebut, sebagaimana dikatakan Kepala Disbudparpora Sumenep, M. Nasir, diikuti oleh 53 kelompok yang menyajikan makanan dan minuman khas lokal.

Sebagian besar peserta festival menyajikan makanan khas yang berbahan dasar bahan pangan lokal seperti jagung dan ketela rambat.

Sementara minuman khas yang ditampilkan para peserta, sebagian besar adalah "poka" dan aneka minuman dari kopyor.

Secara kebetulan, dua wisatawan asing terlihat berada di lokasi festival dan panitia pelaksana langsung meminta mereka duduk di kursi undangan di dekat istri Bupati Sumenep, Jamilah Busyro Karim.

"Dua wisatawan asing tersebut mengaku berasal dari Belanda dan kebetulan berada di Sumenep sejak hari Senin (8/11)," kata staf Disbudparpora Sumenep, Kurniadi Wijaya.
Baca Selengkapnya >>

Al Qur-an raksasa di Sumenep Madura


Al Quran raksasa di Museum Keraton Sumenep mampu menyedot wisatawan. Maklum, Al Quran asli tulisan tangan terbilang unik.

Ukuran:

panjang = 4 meter

Lebar = 3 meter

Berat = 500 kg.

“Yang menulis ini seorang wanita, namanya Yanti. Dia warga desa Bluto. Butuh waktu 6 bulan untuk menyelesaikan penulisan Al Quran ini,” papar Erfandi, di Museum Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Erfandi mengungkapkan keunikan AL Quran raksasa itu mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. “Meskipun tidak termasuk benda kuno, tapi AL Quran ini unik, karena ukurannya yang sangat besar, dan murni tulisan tangan,” terang Erfandi.

“Kalau hari Minggu seperti sekarang ini, per hari pengunjungnya bisa mencapai 250 orang. Kalau hari biasa paling hanya 50 atau 60 orang. Ya yang berkunjung tidak hanya dari Madura, tapi banyak juga yang dari luar Madura. Mereka biasanya satu paket dengan wisata religi Asta Tinggi,” tambahnya.

Al Quran tulisan tangan ini berukuran panjang 4 meter, lebar 3 meter dan berat 500kg. Al Quran yang dibuat tahun 2005 ini dipajang di museum keraton di atas balai-balai kuno dari kayu, tepat di depan pintu masuk keraton.
Baca Selengkapnya >>

Karena Ilegal, Ratusan TKI Dipulangkan Paksa


SUMENEP (Berita SuaraMedia) - Sedikitnya 140 tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang bekerja di Malaysia dipulangkan paksa.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumenep, Madani, Selasa menjelaskan bahwa sejak bulan Januari hingga November 2010, warga setempat yang menjadi TKI ilegal di Malaysia dipulangkan paksa secara bertahap.

"Sejak 1 Januari hingga 19 November 2010 terdapat 140 TKI ilegal di Malaysia asal Sumenep yang dipulangkan paksa. Kami menilai angka ini adalah sementara karena bisa saja pada akhir bulan November ini dan Desember 2010 akan ada TKI ilegal yang dipulangkan paksa lagi," katanya di Sumenep.

Kasus terakhir pemulangan paksa TKI ilegal di Malaysia asal Sumenep terjadi pada tanggal 19 November 2010.

"Saat itu (19/11), ada sembilan TKI ilegal asal Sumenep yang dipulangkan paksa dari Malaysia yang melapor pada staf kami. Semuanya warga di dua kecamatan di Pulau Kangean, yakni Kecamatan Arjasa dan Kangayan," katanya menuturkan.

Madani juga mengemukakan, sebagian besar dari ratusan TKI ilegal yang dipulangkan paksa dari Malaysia memang berasal dari dua kecamatan di Pulau Kangean.

"Selama ini, Kecamatan Arjasa dan Kangayan di Pulau Kangean memang menjadi kantong TKI ilegal di Sumenep. Kami sebenarnya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi supaya warga setempat menjadi TKI melalui jalur resmi," katanya mengungkapkan.

Dalam kasus pemulangan paksa TKI ilegal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memberikan bantuan transportasi sebesar Rp75 ribu per orang untuk digunakan sebagai biaya pulang ke rumahnya.

"TKI ilegal yang berhak menerima bantuan transportasi adalah TKI ilegal yang mengantongi surat pengantar dari Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur," katanya menambahkan.

Para TKI ilegal asal Sumenep yang dipulangkan paksa itu biasanya langsung datang ke Kantor Disnaker Sumenep untuk menerima bantuan tersebut sekaligus didata.

"Dari kasus pemulangan paksa itu pula, kami bisa mengetahui gambaran riil tentang warga Sumenep yang menjadi TKI ilegal. Untuk angka pasti warga Sumenep yang menjadi TKI ilegal, kami tidak tahu, karena mereka memang berangkat untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur yang tidak resmi," kata Madani.
Baca Selengkapnya >>