Jumat, 03 Desember 2010

Jelajahi Objek WIsata Sumenep



Ada beberapa tempat wisata andalan kabupaten ini, diantaranya makam Asta Tinggi, Masjid Jamik, dan pantai Lombang. Kami putuskan berkunjung ke pantai Lombang.
Dari kota Sumenep jarak tempuhnya tidak jauh, sekitar 30 kilo meter, jalanan pun cukup bagus dan beraspal. Pada saat libur panjang, pantai ini ramai pengunjung. Wisatawan umumnya berasal dari wilayah Madura, tapi tak sedikit pula yang datang dari Surabaya.

Dibandingkan beberapa pantai yang pernah kami kunjungi, Lombang tak kalah menarik dari pantai Kuta, bahkan pantai ini menjanjikan suasana yang lebih alami. Yang menjadikannya unik, disekitar dan disepanjang bibir pantai tumbuh pepohonan cemara udang. Konon, hanya ada 2 pantai di dunia ini yang memiliki keunikan semacam ini, selain Lombang sendiri, tempat lainnya adalah Cina. Dengan adanya Suramadu, keindahan pantai Lombang tampaknya bakal menjadi salah satu objek wisata unggulan bagi Madura.
Jadi, bila anda berminat menikmati wisata pantai seindah pantai Kuta, cobalah sesekali berkunjung ke Lombang. Selain waktu tempuhnya dari Surabaya kini semakin pendek, sekitar 3 jam, anda juga dapat menyaksikan icon baru yang dimiliki Surabaya dan Madura–Jembatan Suramadu.


Pantai Slopeng adalah kawasan pantai yang indah penuh pesona alamnya yang asri dan pohon nyiur dan siwalan tinggi melambai, serta pantai pasirnya yang bersih, membuat kawasan pantai ini banyak disinggahi oleh wisatawan domestic maupun dari mancanegara.

Kawasan pantai ini terletak di jalan raya Ambunten km 17 Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep, yang berjarak 197 km dari kota Surabaya.

Sedangkan fasilitas yang terdapat di pantai slopeng seperti, olah raga air, perahu layar tempat beistirahat atau bersantai, panggung gembira, pesanggerahan, tempat bermain anak, kamar mandi dan toilet. Pantai ini juga bisa digunakan untuk kegiatan seperti, seni tradisional, lomba memasak dan dihari-hari besar ada ketupatan.

Namun saat ini pantai slopeng tak seindah dulu lagi, pantainya yang kotor dan banyak fasilitas yang tidak terawat, dan bangunannya dibiarkan rusak begitu saja. Endi Prasetyo salah satu pengunjung asal Surabaya, “mengatakan fasilitas yang ada disini, sayang semuanya tidak terawat dengan baik, untuk itu dibutuhkan perawatan yang lebih baik lagi agar pengunjung senantiasa berkunjung ketempat ini,”
Baca Selengkapnya >>

Selasa, 30 November 2010

Pemkab Sumenep Gelar Festival Makanan Khas


Sumenep - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menggelar festival makanan dan minuman khas setempat, Selasa.

Bupati Sumenep, A. Busyro Karim menjelaskan, makanan dan minuman khas sebenarnya merupakan salah satu potensi yang bisa dijual, baik sebagai bahan pangan maupun potensi wisata.
"Oleh karena itu, kami berharap festival ini bisa mempromosikan makanan dan minuman khas Sumenep menjadi lebih terkenal. Sehingga, warga di luar Madura tidak hanya mengenal sate dan soto Madura sebagai makanan khas," katanya di Sumenep.

Melalui festival tersebut diharapkan makanan yang sebenarnya lebih khas kemaduraannya, seperti "nase' kowa maronggi" dan minuman "poka" lebih terangkat dan terkenal ke wilayah luar Madura.

"Jangan sampai 'nase' kowa maronggi' yang sebenarnya makanan khas Madura ini kalah populer dengan nasi pecel ala Madiun maupun nasi liwet dari Solo," katanya menambahkan.

Bupati berharap pimpinan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep bisa melakukan terobosan untuk membuat "nase' kowa maronggi' menjadi potensi wisata.

"Jangan hanya menggelar festival. Kegiatan ini harus ada tindaklanjutnya dan semoga nantinya bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan asing," katanya menegaskan.

Festival tersebut, sebagaimana dikatakan Kepala Disbudparpora Sumenep, M. Nasir, diikuti oleh 53 kelompok yang menyajikan makanan dan minuman khas lokal.

Sebagian besar peserta festival menyajikan makanan khas yang berbahan dasar bahan pangan lokal seperti jagung dan ketela rambat.

Sementara minuman khas yang ditampilkan para peserta, sebagian besar adalah "poka" dan aneka minuman dari kopyor.

Secara kebetulan, dua wisatawan asing terlihat berada di lokasi festival dan panitia pelaksana langsung meminta mereka duduk di kursi undangan di dekat istri Bupati Sumenep, Jamilah Busyro Karim.

"Dua wisatawan asing tersebut mengaku berasal dari Belanda dan kebetulan berada di Sumenep sejak hari Senin (8/11)," kata staf Disbudparpora Sumenep, Kurniadi Wijaya.
Baca Selengkapnya >>

Al Qur-an raksasa di Sumenep Madura


Al Quran raksasa di Museum Keraton Sumenep mampu menyedot wisatawan. Maklum, Al Quran asli tulisan tangan terbilang unik.

Ukuran:

panjang = 4 meter

Lebar = 3 meter

Berat = 500 kg.

“Yang menulis ini seorang wanita, namanya Yanti. Dia warga desa Bluto. Butuh waktu 6 bulan untuk menyelesaikan penulisan Al Quran ini,” papar Erfandi, di Museum Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Erfandi mengungkapkan keunikan AL Quran raksasa itu mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. “Meskipun tidak termasuk benda kuno, tapi AL Quran ini unik, karena ukurannya yang sangat besar, dan murni tulisan tangan,” terang Erfandi.

“Kalau hari Minggu seperti sekarang ini, per hari pengunjungnya bisa mencapai 250 orang. Kalau hari biasa paling hanya 50 atau 60 orang. Ya yang berkunjung tidak hanya dari Madura, tapi banyak juga yang dari luar Madura. Mereka biasanya satu paket dengan wisata religi Asta Tinggi,” tambahnya.

Al Quran tulisan tangan ini berukuran panjang 4 meter, lebar 3 meter dan berat 500kg. Al Quran yang dibuat tahun 2005 ini dipajang di museum keraton di atas balai-balai kuno dari kayu, tepat di depan pintu masuk keraton.
Baca Selengkapnya >>

Karena Ilegal, Ratusan TKI Dipulangkan Paksa


SUMENEP (Berita SuaraMedia) - Sedikitnya 140 tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang bekerja di Malaysia dipulangkan paksa.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumenep, Madani, Selasa menjelaskan bahwa sejak bulan Januari hingga November 2010, warga setempat yang menjadi TKI ilegal di Malaysia dipulangkan paksa secara bertahap.

"Sejak 1 Januari hingga 19 November 2010 terdapat 140 TKI ilegal di Malaysia asal Sumenep yang dipulangkan paksa. Kami menilai angka ini adalah sementara karena bisa saja pada akhir bulan November ini dan Desember 2010 akan ada TKI ilegal yang dipulangkan paksa lagi," katanya di Sumenep.

Kasus terakhir pemulangan paksa TKI ilegal di Malaysia asal Sumenep terjadi pada tanggal 19 November 2010.

"Saat itu (19/11), ada sembilan TKI ilegal asal Sumenep yang dipulangkan paksa dari Malaysia yang melapor pada staf kami. Semuanya warga di dua kecamatan di Pulau Kangean, yakni Kecamatan Arjasa dan Kangayan," katanya menuturkan.

Madani juga mengemukakan, sebagian besar dari ratusan TKI ilegal yang dipulangkan paksa dari Malaysia memang berasal dari dua kecamatan di Pulau Kangean.

"Selama ini, Kecamatan Arjasa dan Kangayan di Pulau Kangean memang menjadi kantong TKI ilegal di Sumenep. Kami sebenarnya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi supaya warga setempat menjadi TKI melalui jalur resmi," katanya mengungkapkan.

Dalam kasus pemulangan paksa TKI ilegal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memberikan bantuan transportasi sebesar Rp75 ribu per orang untuk digunakan sebagai biaya pulang ke rumahnya.

"TKI ilegal yang berhak menerima bantuan transportasi adalah TKI ilegal yang mengantongi surat pengantar dari Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur," katanya menambahkan.

Para TKI ilegal asal Sumenep yang dipulangkan paksa itu biasanya langsung datang ke Kantor Disnaker Sumenep untuk menerima bantuan tersebut sekaligus didata.

"Dari kasus pemulangan paksa itu pula, kami bisa mengetahui gambaran riil tentang warga Sumenep yang menjadi TKI ilegal. Untuk angka pasti warga Sumenep yang menjadi TKI ilegal, kami tidak tahu, karena mereka memang berangkat untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur yang tidak resmi," kata Madani.
Baca Selengkapnya >>

Selasa, 29 September 2009

Kekayaan Kota Sumenep


Pulau Madura, khususnya Kabupaten Sumenep merupakan sebuah kabupaten yang sangat kaya dilihat dari potensi alam, ragam budaya dan bahasanya. Kabupaten Sumenep utamanya, memiliki obyek pariwisata yang sangat indah. Mulai dari obyek pariwisata sejarah, religius, bahkan wisata panorama yang sangat memukau. Belum lagi beragam kebudayaan khas dan asli Sumenep, yang tak dapat ditemukan di daerah manapun.
Misalnya saja Kerapan Sapi, Topeng Dalang, Tari Muang Sangkal dan masih banyak lagi kebudayaan khas Sumenep, yang bahkan terkadang orang Sumenep sendiri pun tak hafal akan semua kebudayaannya itu.
Namun sayangnya, kekayaan Kabupaten Sumenep yang sangat melimpah itu, terutama kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah tak diimbangi oleh tindakan manusianya. Saat ini, keaslian kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah Madura sudah tidak orisinil lagi. Kebanyakan kaum muda sekarang merasa enggan untuk menyentuh hal itu. Mereka pikir itu adalah hal yang kuno, ketinggalan jaman, tidak gaul dan kolot.

Perkembangan Kebudayaan Daerah

Kebudayaan daerah Sumenep sangat melimpah dan sangat menarik. Coba sebutkan, kebudayaan apa yang ada di Sumenep yang tidak menarik? Tidak akan ada. Kesemuanya itu merupakan warisan nenek moyang yang harus bersama-sama dilestarikan. Dengan ke-eksistensian budaya lokal tersebut, tidak menutup kemungkinan wilayah Madura, khususnya Kabupaten Sumenep akan dijadikan tempat tujuan wisata, baik itu wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, dan masih banyak lagi aspek-aspek potensial yang dimiliki Kabupaten Sumenep. Namun sayangnya, perkembangannya itu hingga dewasa ini tak seperti yang diharapkan.

Lihat saja perkembangan kerapan sapi dan sapi sonok yang selama ini telah menjadi ikon kebanggaan Madura di daerah lain, bahkan hingga ke mancanegara. Peserta umumnya berasal dari kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah pinggiran, tak ada yang berasal dari Kecamatan Kota Sumenep. Mereka, terutama kaum mudanya, seolah tak tahu-menahu dan tidak ingin tahu soal kerapan sapi dan sapi sonok ini. Bayangkan saja, jika hal ini terus berlanjut, maka perlahan-lahan kerapan sapi pun akan hilang dari tanah Madura. Sebagai contoh lain, Topeng Dalang Madura yang terkenal hingga ke mancanegara itu, sudah semakin redup eksistensinya. Ki Dalang, yaitu orang yang memimpin pertunjukan Topeng Dalang dan terkenal piawai mengubah suaranya sesuai dengan karakter pemainnya itu, sudah sangat jarang ditemui di Sumenep ini. Hanya segelintir orang saja dan mereka itupun sudah berusia lanjut dan sudah sangat sedikit yang masih aktif menjadi dalang. Jika dicari seorang Ki Dalang muda, tak akan pernah ditemui alias nihil. Mungkin ada sedikit di daerah pusat perkembangan Topeng Dalang, yaitu di Kalianget dan di Slopeng. Tapi apakah akan dibiarkan berkembang di kedua daerah itu saja? Tak mungkin dan tak akan bertahan lama. Perlahan-lahan kebudayaan itupun akan musnah jika generasi muda sekarang, terutama yang berada di Kecamatan Kota Sumenep tak ada yang menaruh perhatian sedikitpun pada kesenian dan kebudayaan daerahnya sendiri. Dan masih banyak lagi kesenian dan kebudayaan yang daerah perkembangannya sudah terhimpit globalisasi dan modernisasi, hanya terbatas pada daerah pinggiran saja. Di antara sekian banyak kebudayaan bahkan sudah ada yang hilang begitu saja, entah pergi ke mana.*

Rampungnya jembatan Suramadu pada awal bulan Juli lalu nampaknya memberikan secercah harapan baru bagi perkembangan kebudayaan dan pariwisata daerah Sumenep utamanya. Karena dengan terhubungnya Pulau Madura dan Jawa secara langsung, dapat memudahkan para investor dan wisatawan asing, lokal maupun mancanegara, untuk mengakses “Pulau Garam” dengan mudah. Cepat atau lambat, Madura terutama bagian barat, akan dijadikan kawasan industri. Bagian timurnya utamannya akan dijadikan kawasan wisata. Suatu hal yang sangat menguntungkan Kabupaten Sumenep. Potensinya yang memang luar biasa bisa menggiurkan para investor untuk menanamkan modalnya di Sumenep. Para investor ini akan datang tergopoh-gopoh ke Sumenep saking tergiurnya akan keuntungan yang akan didapat nanti. Bayangkan saja, jika obyek-obyek pariwisata dan kebudayaan yang ada di Sumenep mendapatkan perhatian lebih dari para investor, bukan hal yang mustahil Sumenep tak kalah populer dengan Bali nanti. Coba lirik salah satu pantai, yaitu pantai Lombang. Jika dibandingkan, pantai ini se-level dengan pantai Kuta yang ada di Bali. Belum lagi obyek wisata lain, yang tentunya tak dapat dijabarkan satu per satu secara mendetail.

Tingal sekarang, bagaimana mengelola kekayaan itu. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga pemeliharaan program-program pengembangan obyek-obyek wisata pasca jembatan Suramadu. Selain itu, dalam proses industrialisasi ini harus diperhatikan pula kesejahteraan masyarakat pribumi. Alangkah baiknya jika masyarakat pribumi itu dijadikan subyek, bukan malah dijadikan obyek. Artinya, masyarakat harus dilibatkan secara langsung sebagai pelaku sekaligus pengelola, seandainya nanti memang dijalankan program semacam ini. Dengan adanya program ini diharapkan penduduk asli tidak tersisihkan, justru semakin sejahtera. Sebenarnya inilah salah satu PR yang berat bagi Pemerintah Kabupaten dan segenap masyarakat Sumenep terutama generasi mudanya untuk terus menjaga, melestarikan dan mengembangkan potensi-potensi yang berprobabilitas tinggi untuk dimajukan sebagai obyek wisata yang potensial.

Citra Generasi Muda Jaman Sekarang

Generasi muda memang merupakan salah satu komponen masyarakat yang sangat penting. Kaitannya dengan kelangsungan hidup bermasyarakat di masa yang akan mendatang. Generasi muda harus bisa meneruskan kebiasaan masyarakatnya agar tetap bisa bertahan meskipun jaman telah berubah. Oleh karenanya, merupakan suatu hal yang wajib jika seorang anak harus diberi pelajaran atau pengetahuan tentang daerahnya sejak dini. Kesalahan atau kelalaian sedikit saja dapat berakibat fatal. Kebudayaan daerah akan musnah jika generasi mudanya sudah hancur. Lihat saja apa yang terjadi belakangan ini. Anak muda sekarang lebih memilih musik pop yang lembek itu dibandingkan musik daerahnya sendiri, seperti tong-tong, saronen dan hadrah. Mereka cenderung memilih tari breakdance, yaitu tari patah-patah ala Amerika daripada tari-tarian khas daerahnya sendiri. Mereka lebih menikmati makanan cepat saji dan serba instan yang cenderung berlemak dan sarat akan bahan kimia dan bahan pengawet itu daripada makanan khas Sumenep yang pada umumnya menyehatkan dan bebas bahan pengawet. Mereka biasanya juga lebih memilih “bahasa gaul” daripada bahasa daerahnya sendiri. Meskipun terkadang ada juga yang masih menggunakan Bahasa Madura, namun tata bahasanya sudah kacau balau, tak lagi mengenal aturan-aturan, seperti enggi-bunten, enggi-enten dan enja’-iya. Seolah-olah orang tua, teman sebaya dan orang yang lebih muda derajatnya sama saja, tak ada tingkatan-tingkatan tertentu.
Saat pelajaran Budaya dan Bahasa Madura di sekolah, guru pengajar sering mengadakan diskusi kelompok. Sebagian besar membicarakan kebudayaan Madura, khususnya Sumenep. Diskusi berjalan sangat baik. Semua kelompok dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Jawabannya pun sangat bagus. Pada umumnya siswa sudah dapat mengerti permasalahan yang sedang dihadapi. Namun kenyataannya diskusi seperti itu tiada berguna jika tak diimbangi dengan perbuatan yang nyata. Apa gunanya berdiskusi, memecahkan berbagai macam persoalan mengenai kebudayaan tapi tak diamalkan. Pelajaran usai, semua hasil diskusi dilupakan begitu saja. Tak ada yang berinisiatif untuk mengubah keadaan kebudayaan asli Sumenep yang semakin hari semakin redup saja eksistensinya. Seolah diskusi semacam ini hanyalah seolah formalitas belaka. Siswa melakukannya dengan terpaksa untuk mendapat nilai dari guru. Sesungguhnya diskusi semacam ini sangatlah berguna untuk dilakukan, mencari jawaban atas persoalan seputar kebudayaan yang tengah gencar-gencarnya melanda Sumenep khususnya.

Akan diarahkan ke mana bangsa ini, jika anak mudanya saja sudah melupakan kebudayaannya sendiri. Malah kebudayaan asing yang di puji-puji, sampai-sampai mereka semua tergila-gila karenanya. Padahal anak muda sebenarnya lebih kreatif daripada orang-orang tua. Mereka dapat memunculkan ide-ide inovatif, memiliki tingkat intelegensi yang cenderung lebih tinggi dan juga memiliki imajinasi yang kuat. Jadi saat ini, anak muda-lah yang seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan yang tengah “panas” akhir-akhir ini,terutama yang berkenaan dengan kebudayaan daerah.

Solusi

Seharusnya memang sejak dulu, anak-anak dibiasakan dengan kebudayaan Sumenep. Misalnya jika ada kerapan sapi, pertunjukan topeng dalang ataupun ludruk, ajaklah anak-anak menonton, agar paling tidak mereka tahu dan mengenal kebudayaan asli daerahnya. Itu adalah hal pertama yang harus dilakukan orang tua. Karena jika anak-anak dibiasakan dengan kebudayaan asli Sumenep sejak dini, maka mereka akan menjaganya saat dewasa nanti. Kedua, pemerintah daerah hendaknya membangun fasilitas dan berbagai macam infrastruktur yang berkaitan dengan perkembangan kesenian dan kebudayaan asli Sumenep. Misalnya saja, Sanggar Tari yang dikhususkan sebagai tempat untuk belajar tarian tradisional. Sanggar Teater misalnya, tempat untuk belajar teater tradisional dan modern. Ketiga, sekolah-sekolah bisa mengadakan ekstrakurikuler bagi siswanya dalam hal kesenian dan kebudayaan. Misalnya saja ekstrakurikuler tari, teater, topeng dalang dan lainnya. Dan masih banyak lagi sebenarnya peran pemerintah daerah dalam hal ini. Jadi tak seperti yang terjadi sekarang. Kecamatan Kota Sumenep menjadi tempat yang termodernisasi secara total. Hampir semua penduduknya tak mengenal lagi kebudayaan asli daerahnya sendiri. Seharusnya Kecamatan Kota Sumenep itu menjadi pusat perkembangan kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah Kabupaten Sumenep. Memang hal ini baru merupakan sebuah gagasan atau ide. Namun jika yang terjadi sekarang ini terus dibiarkan, ragam seni dan budaya Sumenep, termasuk bahasanya akan musnah. Meski perlahan tapi pasti.
Baca Selengkapnya >>