Selasa, 29 September 2009

Kekayaan Kota Sumenep


Pulau Madura, khususnya Kabupaten Sumenep merupakan sebuah kabupaten yang sangat kaya dilihat dari potensi alam, ragam budaya dan bahasanya. Kabupaten Sumenep utamanya, memiliki obyek pariwisata yang sangat indah. Mulai dari obyek pariwisata sejarah, religius, bahkan wisata panorama yang sangat memukau. Belum lagi beragam kebudayaan khas dan asli Sumenep, yang tak dapat ditemukan di daerah manapun.
Misalnya saja Kerapan Sapi, Topeng Dalang, Tari Muang Sangkal dan masih banyak lagi kebudayaan khas Sumenep, yang bahkan terkadang orang Sumenep sendiri pun tak hafal akan semua kebudayaannya itu.
Namun sayangnya, kekayaan Kabupaten Sumenep yang sangat melimpah itu, terutama kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah tak diimbangi oleh tindakan manusianya. Saat ini, keaslian kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah Madura sudah tidak orisinil lagi. Kebanyakan kaum muda sekarang merasa enggan untuk menyentuh hal itu. Mereka pikir itu adalah hal yang kuno, ketinggalan jaman, tidak gaul dan kolot.

Perkembangan Kebudayaan Daerah

Kebudayaan daerah Sumenep sangat melimpah dan sangat menarik. Coba sebutkan, kebudayaan apa yang ada di Sumenep yang tidak menarik? Tidak akan ada. Kesemuanya itu merupakan warisan nenek moyang yang harus bersama-sama dilestarikan. Dengan ke-eksistensian budaya lokal tersebut, tidak menutup kemungkinan wilayah Madura, khususnya Kabupaten Sumenep akan dijadikan tempat tujuan wisata, baik itu wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, dan masih banyak lagi aspek-aspek potensial yang dimiliki Kabupaten Sumenep. Namun sayangnya, perkembangannya itu hingga dewasa ini tak seperti yang diharapkan.

Lihat saja perkembangan kerapan sapi dan sapi sonok yang selama ini telah menjadi ikon kebanggaan Madura di daerah lain, bahkan hingga ke mancanegara. Peserta umumnya berasal dari kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah pinggiran, tak ada yang berasal dari Kecamatan Kota Sumenep. Mereka, terutama kaum mudanya, seolah tak tahu-menahu dan tidak ingin tahu soal kerapan sapi dan sapi sonok ini. Bayangkan saja, jika hal ini terus berlanjut, maka perlahan-lahan kerapan sapi pun akan hilang dari tanah Madura. Sebagai contoh lain, Topeng Dalang Madura yang terkenal hingga ke mancanegara itu, sudah semakin redup eksistensinya. Ki Dalang, yaitu orang yang memimpin pertunjukan Topeng Dalang dan terkenal piawai mengubah suaranya sesuai dengan karakter pemainnya itu, sudah sangat jarang ditemui di Sumenep ini. Hanya segelintir orang saja dan mereka itupun sudah berusia lanjut dan sudah sangat sedikit yang masih aktif menjadi dalang. Jika dicari seorang Ki Dalang muda, tak akan pernah ditemui alias nihil. Mungkin ada sedikit di daerah pusat perkembangan Topeng Dalang, yaitu di Kalianget dan di Slopeng. Tapi apakah akan dibiarkan berkembang di kedua daerah itu saja? Tak mungkin dan tak akan bertahan lama. Perlahan-lahan kebudayaan itupun akan musnah jika generasi muda sekarang, terutama yang berada di Kecamatan Kota Sumenep tak ada yang menaruh perhatian sedikitpun pada kesenian dan kebudayaan daerahnya sendiri. Dan masih banyak lagi kesenian dan kebudayaan yang daerah perkembangannya sudah terhimpit globalisasi dan modernisasi, hanya terbatas pada daerah pinggiran saja. Di antara sekian banyak kebudayaan bahkan sudah ada yang hilang begitu saja, entah pergi ke mana.*

Rampungnya jembatan Suramadu pada awal bulan Juli lalu nampaknya memberikan secercah harapan baru bagi perkembangan kebudayaan dan pariwisata daerah Sumenep utamanya. Karena dengan terhubungnya Pulau Madura dan Jawa secara langsung, dapat memudahkan para investor dan wisatawan asing, lokal maupun mancanegara, untuk mengakses “Pulau Garam” dengan mudah. Cepat atau lambat, Madura terutama bagian barat, akan dijadikan kawasan industri. Bagian timurnya utamannya akan dijadikan kawasan wisata. Suatu hal yang sangat menguntungkan Kabupaten Sumenep. Potensinya yang memang luar biasa bisa menggiurkan para investor untuk menanamkan modalnya di Sumenep. Para investor ini akan datang tergopoh-gopoh ke Sumenep saking tergiurnya akan keuntungan yang akan didapat nanti. Bayangkan saja, jika obyek-obyek pariwisata dan kebudayaan yang ada di Sumenep mendapatkan perhatian lebih dari para investor, bukan hal yang mustahil Sumenep tak kalah populer dengan Bali nanti. Coba lirik salah satu pantai, yaitu pantai Lombang. Jika dibandingkan, pantai ini se-level dengan pantai Kuta yang ada di Bali. Belum lagi obyek wisata lain, yang tentunya tak dapat dijabarkan satu per satu secara mendetail.

Tingal sekarang, bagaimana mengelola kekayaan itu. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga pemeliharaan program-program pengembangan obyek-obyek wisata pasca jembatan Suramadu. Selain itu, dalam proses industrialisasi ini harus diperhatikan pula kesejahteraan masyarakat pribumi. Alangkah baiknya jika masyarakat pribumi itu dijadikan subyek, bukan malah dijadikan obyek. Artinya, masyarakat harus dilibatkan secara langsung sebagai pelaku sekaligus pengelola, seandainya nanti memang dijalankan program semacam ini. Dengan adanya program ini diharapkan penduduk asli tidak tersisihkan, justru semakin sejahtera. Sebenarnya inilah salah satu PR yang berat bagi Pemerintah Kabupaten dan segenap masyarakat Sumenep terutama generasi mudanya untuk terus menjaga, melestarikan dan mengembangkan potensi-potensi yang berprobabilitas tinggi untuk dimajukan sebagai obyek wisata yang potensial.

Citra Generasi Muda Jaman Sekarang

Generasi muda memang merupakan salah satu komponen masyarakat yang sangat penting. Kaitannya dengan kelangsungan hidup bermasyarakat di masa yang akan mendatang. Generasi muda harus bisa meneruskan kebiasaan masyarakatnya agar tetap bisa bertahan meskipun jaman telah berubah. Oleh karenanya, merupakan suatu hal yang wajib jika seorang anak harus diberi pelajaran atau pengetahuan tentang daerahnya sejak dini. Kesalahan atau kelalaian sedikit saja dapat berakibat fatal. Kebudayaan daerah akan musnah jika generasi mudanya sudah hancur. Lihat saja apa yang terjadi belakangan ini. Anak muda sekarang lebih memilih musik pop yang lembek itu dibandingkan musik daerahnya sendiri, seperti tong-tong, saronen dan hadrah. Mereka cenderung memilih tari breakdance, yaitu tari patah-patah ala Amerika daripada tari-tarian khas daerahnya sendiri. Mereka lebih menikmati makanan cepat saji dan serba instan yang cenderung berlemak dan sarat akan bahan kimia dan bahan pengawet itu daripada makanan khas Sumenep yang pada umumnya menyehatkan dan bebas bahan pengawet. Mereka biasanya juga lebih memilih “bahasa gaul” daripada bahasa daerahnya sendiri. Meskipun terkadang ada juga yang masih menggunakan Bahasa Madura, namun tata bahasanya sudah kacau balau, tak lagi mengenal aturan-aturan, seperti enggi-bunten, enggi-enten dan enja’-iya. Seolah-olah orang tua, teman sebaya dan orang yang lebih muda derajatnya sama saja, tak ada tingkatan-tingkatan tertentu.
Saat pelajaran Budaya dan Bahasa Madura di sekolah, guru pengajar sering mengadakan diskusi kelompok. Sebagian besar membicarakan kebudayaan Madura, khususnya Sumenep. Diskusi berjalan sangat baik. Semua kelompok dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Jawabannya pun sangat bagus. Pada umumnya siswa sudah dapat mengerti permasalahan yang sedang dihadapi. Namun kenyataannya diskusi seperti itu tiada berguna jika tak diimbangi dengan perbuatan yang nyata. Apa gunanya berdiskusi, memecahkan berbagai macam persoalan mengenai kebudayaan tapi tak diamalkan. Pelajaran usai, semua hasil diskusi dilupakan begitu saja. Tak ada yang berinisiatif untuk mengubah keadaan kebudayaan asli Sumenep yang semakin hari semakin redup saja eksistensinya. Seolah diskusi semacam ini hanyalah seolah formalitas belaka. Siswa melakukannya dengan terpaksa untuk mendapat nilai dari guru. Sesungguhnya diskusi semacam ini sangatlah berguna untuk dilakukan, mencari jawaban atas persoalan seputar kebudayaan yang tengah gencar-gencarnya melanda Sumenep khususnya.

Akan diarahkan ke mana bangsa ini, jika anak mudanya saja sudah melupakan kebudayaannya sendiri. Malah kebudayaan asing yang di puji-puji, sampai-sampai mereka semua tergila-gila karenanya. Padahal anak muda sebenarnya lebih kreatif daripada orang-orang tua. Mereka dapat memunculkan ide-ide inovatif, memiliki tingkat intelegensi yang cenderung lebih tinggi dan juga memiliki imajinasi yang kuat. Jadi saat ini, anak muda-lah yang seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan yang tengah “panas” akhir-akhir ini,terutama yang berkenaan dengan kebudayaan daerah.

Solusi

Seharusnya memang sejak dulu, anak-anak dibiasakan dengan kebudayaan Sumenep. Misalnya jika ada kerapan sapi, pertunjukan topeng dalang ataupun ludruk, ajaklah anak-anak menonton, agar paling tidak mereka tahu dan mengenal kebudayaan asli daerahnya. Itu adalah hal pertama yang harus dilakukan orang tua. Karena jika anak-anak dibiasakan dengan kebudayaan asli Sumenep sejak dini, maka mereka akan menjaganya saat dewasa nanti. Kedua, pemerintah daerah hendaknya membangun fasilitas dan berbagai macam infrastruktur yang berkaitan dengan perkembangan kesenian dan kebudayaan asli Sumenep. Misalnya saja, Sanggar Tari yang dikhususkan sebagai tempat untuk belajar tarian tradisional. Sanggar Teater misalnya, tempat untuk belajar teater tradisional dan modern. Ketiga, sekolah-sekolah bisa mengadakan ekstrakurikuler bagi siswanya dalam hal kesenian dan kebudayaan. Misalnya saja ekstrakurikuler tari, teater, topeng dalang dan lainnya. Dan masih banyak lagi sebenarnya peran pemerintah daerah dalam hal ini. Jadi tak seperti yang terjadi sekarang. Kecamatan Kota Sumenep menjadi tempat yang termodernisasi secara total. Hampir semua penduduknya tak mengenal lagi kebudayaan asli daerahnya sendiri. Seharusnya Kecamatan Kota Sumenep itu menjadi pusat perkembangan kesenian, kebudayaan dan bahasa daerah Kabupaten Sumenep. Memang hal ini baru merupakan sebuah gagasan atau ide. Namun jika yang terjadi sekarang ini terus dibiarkan, ragam seni dan budaya Sumenep, termasuk bahasanya akan musnah. Meski perlahan tapi pasti.

0 komentar:

Posting Komentar